Sebuah Puisi Prosa "Kepada yang Saat Ini Tidak Dapat Kusebutkan Namanya" karya Eva Nurhasanah (Memo Qalbu)
Sebuah Puisi Prosa
"Kepada yang Saat Ini Tidak Dapat Kusebutkan Namanya"
***
Tulisan ini aku tujukan untuk satu jiwa
yang saat ini begitu jauh dari pandanganku,
ia jarang sekali kulihat;
namun entah mengapa
jika aku rida pada ketetapan Tuhanku,
ia begitu sangat dekat.
***
“Biarlah cinta Tuhan menjadi perisai yang senantiasa menjaga
dan melindungimu di mana pun kamu berada.”
***
Hari
ini, ketika atmosfer yang kamu hirup masih mengalirkan denyut nadi di antara
luasnya semesta yang terpatri, alterasi waktu akan senantiasa menggerakkan dan
membawa dirimu kembali, dari satu sisi ke lain sisi, dan dengan atau tanpa kamu
sadari, konstelasinya akan terus kamu ulangi. Maka untuk kali ini, saat kamu membaca
tulisan ini, saat kamu memutarbalikkan memori: aku ingin kamu perlahan
menenangkan dirimu sejenak, aku ingin kamu merenungkan setiap ketetapan yang
telah membentukmu dengan bijak, sebelum pada akhirnya jiwamu menyerap segala
sesuatu dengan porsi yang lebih banyak.
***
Hari
ini, tepat pada tanggal 26 bulan 02 tahun 2026 Masehi— ketika bulan dan
refleksi cahayanya menunjukkan diri dengan gradasi tinggi nan suci, dan ketika setiap
detik waktunya begitu sangat berarti. Sekali lagi, kutulis kembali, hari ini
adalah tanggal 26 bulan 02 tahun 2026 Masehi— tanggal di mana bagian dari
perjalanan ini telah mengantarkan masa yang kamu miliki pada 22 tahun kehidupan
di bumi.
***
Dan
kamu tahu apa yang paling berharga dari hari ini? Itu adalah dirimu sendiri.
***
Di
bagian ini, barangkali, di sisi yang tidak pernah kamu sadari; aku selalu mencoba
untuk melihatmu lebih dalam lagi. Dan salah satu hal yang kudapati— adalah
dirimu yang sering kali merasa sendiri di tengah perjalanan ini— adalah dirimu
yang sering kali mendekap segalanya dalam sunyi.
***
Sesederhana,
ketika pun aku bertanya, “Apakah kamu baik-baik saja?”, kurasa, itu tidak akan
membuat dirimu jujur akan keadaan yang sedang kamu rasakan saat itu juga,
karena kemungkinan besarnya, kamu akan menjawabnya melalui perkataan yang tidak
sesuai dengan fakta. Dan dari pertanyaan itu pula, aku tahu tidak ada jaminan untuk
permasalahanmu dapat terurai begitu saja; tetapi sekurang-kurangnya, perasaanmu
akan jauh lebih lega; dan setidaknya, kamu pantas didengarkan juga.
***
Maka
dalam setiap apa yang kudapati, tentang dirimu dari salah satu sisi: aku
mengerti dan menyadari: bahwa mungkin sering kali, segala yang kamu alami, rasanya
tidak mudah untuk kamu hadapi; bahwa mungkin sering kali, segala yang kamu
jalani, rasanya tidak mudah untuk kamu lewati; dan begitu juga dengan hal-hal
lain yang sering kali kamu rasakan lebih jauh lagi dari apa yang kuketahui.
***
Akan tetapi, dalam perjalanan di kehidupan ini,
yakinlah satu:
Tuhan tahu, kamu mampu,
dan aku percaya akan hal itu.
***
Begitulah
dari sini, di antara setiap sisi yang penuh kontemplasi, aku juga ingin kamu mengerti
dan menyadari: bahwa langkahmu kini sudah membawa dirimu sejauh ini. Dan jika kamu
memperhatikan sisi lain dari dalam dirimu sendiri, aku yakini, kamu akan menemukan
sosok yang terus tumbuh mengakar tanpa tepi, sosok yang terus memancarkan sinar
tanpa butuh validasi, sosok yang berani, dan sosok yang sebenarnya tidak takut
bermimpi: ia tidak takut membawa mimpinya kepada keberhasilan atau kegagalan
kembali, karena ia sungguh memahami, hal yang paling esensial dari sebuah mimpi
adalah proses dan pembelajaran yang ada saat ini. Itulah sisi lain dalam dirimu
sendiri. Kamu yang telah kuat menjalani hari-harinya dengan sepenuh hati, kamu
yang telah mempertahankan diri dengan hal-hal sederhana yang dirawat dari dalam
sanubari, kamu yang telah senantiasa menjadikan dirimu sendiri sebagai jiwa
yang terus menjaga nurani, pun kamu yang telah melawan keinginan untuk senantiasa
melarikan diri dan menghindari rasa nyeri yang Tuhan beri— dengan terus menetap
dan meraih arti.
***
Untuk
ke sekian kali dalam hitungan masa, dirimu juga telah berhasil menghadapi
berbagai tantangan yang mungkin tidak pernah kamu kira. Dan di fragmen
selanjutnya, kamu menyelamatkan dan menciptakan cahaya yang tidak pernah sirna,
kamu menggoreskan rupa-rupa warna di tengah hitam dan putihnya dunia, pun kamu menjelma
menjadi jiwa yang menyemai benih cinta di sisi lain fatamorgana.
***
Dan
di antaranya kamu akan temukan— keindahan— dari setiap hal dalam perjalanan di
kehidupan; maka terimalah setiap apa yang Tuhan berikan dengan kelapangan hati
dan pikiran.
***
Demikianlah
cinta Tuhan telah menjadikan dirimu sebagai pahlawan dari setiap wujud
perjuangan dan pengorbanan dalam kehidupanmu sendiri, di mana segala bentuk rintangan
dan tantangan dari tahun ke tahun telah berhasil kamu hadapi. Jadi, dari sini,
aku ingin kamu berhenti merendahkan dirimu sendiri; karena dirimu telah begitu
berarti: ia tidak butuh ikut serta ke dalam sebuah kompetisi hanya untuk mengejar
validasi, ia tidak butuh perbandingan dan atensi— dari hal-hal yang hanya sebatas
duniawi.
***
Aku
akui, jalan di kehidupan ini tidak mudah kita lalui, tetapi tidak pula sulit
jika kita membawa kunci, tidak pula sulit jika kita yakin pada Tuhan yang
menciptakan diri kita sendiri, maka dalam perjalanan ini, terima kasih telah
bertahan sejauh ini.
***
Dan
sebagai akhir dari bagian yang sepenuhnya belum cukup mampu kutuliskan, aku
ingin kamu senantiasa mempertahankan senyuman dan terus melangkah di jalan kebaikan.
Kemudian, aku memercayakan doa dan harapan— serta segala bentuk keadaan kepada
Tuhan, aku percaya kepada pencipta dan pemilik kuasa atas segala ketetapan:
bahwa dari-Nyalah kamu akan senantiasa ada dalam lindungan dan keselamatan; dari-Nyalah
hidupmu akan senantiasa ada dalam ketaatan dan ketakwaan; dari-Nyalah jiwa dan
ragamu akan senantiasa diberi kesehatan, ketenteraman, ketenangan; dari-Nyalah
segala niat dan usaha yang kamu lakukan akan senantiasa diberi kelancaran dan keberkahan;
dari-Nyalah rezekimu akan senantiasa dicukupkan; dari-Nyalah jalanmu akan
senantiasa diarahkan; dari-Nyalah segala permasalahanmu akan senantiasa diberi
jalan, segala persoalanmu diberi penyelesaian, segala pertanyaanmu diberi
jawaban, segala kesulitanmu diberi kemudahan; dan dari-Nyalah setiap kesalahanmu akan senantiasa diberi pengampunan, setiap kebenaranmu akan senantiasa diberi ganjaran; pun dari-Nyalah segala sesuatu akan
senantiasa membuat dirimu ada dalam kebaikan. Dan di usiamu yang senantiasa
mengalami peningkatan, maka tingkatkanlah kesadaran, kesabaran, keikhlasan,
keridaan, dan kebaikan tanpa batasan. Kemudian, serahkanlah setiap doa dan harapan
hanya kepada Tuhan. Rawatlah seluruh doa dan harapan dengan membawa cinta Tuhan.
***
“Selamat atas 22 tahun usiamu,
Tuhan merahmatimu.”
***
Tertanda, Eva Nurhasanah.
Komentar
Posting Komentar