Postingan

Sebuah Puisi Prosa "Kepada yang Saat Ini Tidak Dapat Kusebutkan Namanya" karya Eva Nurhasanah (Memo Qalbu)

Sebuah Puisi Prosa "Kepada yang Saat Ini Tidak Dapat Kusebutkan Namanya" ***   Tulisan ini aku tujukan untuk satu jiwa yang saat ini begitu jauh dari pandanganku, ia jarang sekali kulihat; namun entah mengapa jika aku rida pada ketetapan Tuhanku, ia begitu sangat dekat.   ***   “Biarlah cinta Tuhan menjadi perisai yang senantiasa menjaga dan melindungimu di mana pun kamu berada.”   ***   Hari ini, ketika atmosfer yang kamu hirup masih mengalirkan denyut nadi di antara luasnya semesta yang terpatri, alterasi waktu akan senantiasa menggerakkan dan membawa dirimu kembali, dari satu sisi ke lain sisi, dan dengan atau tanpa kamu sadari, konstelasinya akan terus kamu ulangi. Maka untuk kali ini, saat kamu membaca tulisan ini, saat kamu memutarbalikkan memori: aku ingin kamu perlahan menenangkan dirimu sejenak, aku ingin kamu merenungkan setiap ketetapan yang telah membentukmu dengan bijak, sebelum pada akhirnya jiwamu menyerap segala sesu...

Sepenggal Kata dari "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer yang Ditulis Ulang oleh Eva Nurhasanah (Memo Qalbu)

Gambar
Gambar: Sketsa Strata oleh Eva Nurhasanah (Memo Qalbu) Eropa, Pribumi; Indo, atau Asli; begitu pun mereka yang mengaku kaum terpelajar dan berpendidikan, serta gaya dan bahasa Eropa yang mereka gunakan; semua latar belakang manusia bukanlah jaminan untuk mereka bisa menegakkan sebuah keadilan; baik itu di dalam pikiran —  maupun tindakan yang mereka lakukan. —Pramoedya Ananta Toer dalam Novel "Bumi Manusia" yang ditulis ulang oleh Eva Nurhasanah (Memo Qalbu)

Eva Nurhasanah (Memo Qalbu)

Gambar
 " Sebuah Catatan dari Cerita Pendek Penuh Makna karya Eva Nurhasanah (Memo Qalbu)" Gambar: Sketsa Indonesia oleh Eva Nurhasanah (Memo Qalbu) Ada banyak sekali perjalanan yang terpatri, pengalaman yang terekognisi; hidup dalam penjagaan yang diwariskan dari generasi ke generasi; dan ia tumbuh dengan cinta— yang setiap sisinya mampu mengikat keberagaman dari masing-masing diri manusia— menjadi satu kesatuan yang harmoni. Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi juga pembelajaran, di mana jiwa dalam setiap diri manusia akan dapat menemukan pengertian dan menyadari makna kehidupan. *** Mari menyelam bersama-sama— ke dalam cerita yang mungkin saja pernah kita rasa, tetapi keberadaannya hanya terlewati begitu saja. *** Inilah sedikit pembuka dari cerita pendek bertema “Kearifan Lokal Indonesia” karya Eva Nurhasanah (Memo Qalbu). Cerita ini ditulis sepenuh hati dengan bahasa yang puitis dan penuh arti. Mari membaca selengkapnya di tautan berikut ini!  https://literatura.id/pawai-jampan...